Menunggu Dampak KAA 2015 bagi Dunia

Posted on 26 April 2015

0


Menunggu-Dampak-KAA-2015-bagi-Dunia

Pasukan defile pembawa bendera negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) mulai berderap dari Hotel Savoy Homann, Bandung, menuju Gedung Merdeka tepat pukul 09.15 WIB, Jumat, 24 April 2015. Di belakangnya, diikuti barisan anak kecil dan mojang Bandung.

Kemudian, tiba barisan yang ditunggu oleh semua orang, yakni 22 kepala negara peserta KAA. Terlihat di barisan depan, Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Iriana.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Ibu Negara, Peng Liyuan, ikut berjalan di samping kanan Jokowi. Sementara itu, di sebelah kiri, terlihat Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak dan Ibu Negara, Rosmah Mansor. Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla berjalan di samping kiri PM Negeri Jiran itu.

Mereka semua mengenang kembali peristiwa yang terjadi 60 tahun lalu, ketika pendiri bangsa, Soekarno, memimpin barisan kepala negara Asia-Afrika menuju Gedung Merdeka, tempat diselenggarakannya pertemuan kepala negara. Aksi jalan kaki tersebut kemudian disebut “historical walks”.

Dalam pidatonya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu kembali mengingatkan mengenai cita-cita yang dulu dimiliki oleh penggagas KAA, yakni Soekarno, Jawaharlal Nehru, Mohammad Ali Bogra, Sir John Kotelawala, dan U Nu.

“India, Pakistan, Sri Lanka, Myanmar, dan Indonesia adalah sebuah cita-cita. Cita-cita tentang sebuah kehidupan merdeka, adil, dan sejahtera. Cita-cita yang menginspirasi lahirnya Semangat Bandung,” kata Jokowi.

Jokowi mengenang, saat KAA dihelat tahun 1955, hanya ada tiga negara dari kawasan Afrika yang berpartisipasi. Bahkan, Sudan yang ketika itu belum merdeka, hanya membawa sebuah kain putih bertuliskan negaranya.

“Dia belum merdeka dan belum memiliki bendera kenegaraan,” ujar Jokowi.

Kini, ketika KAA dikenang kembali 60 tahun kemudian, situasi telah berubah. Saat itu, konferensi hanya dihadiri oleh 29 negara, maka kini membengkak menjadi 91 negara yang mengikuti KAA.

“Namun, tetap dengan semangat yang sama untuk menghadapi tantangan yang berbeda,” kata Jokowi.

Presiden turut menyinggung usai 60 tahun berlalu, dunia masih tetap berutang kepada Palestina, karena hingga kini mereka masih diokupasi oleh Israel.

“Kemerdekaan Palestina harus terus kita perjuangkan. Kita harus bahu-membahu meningkatkan kemakmuran rakyat melalui kerja sama ekonomi dan perdagangan demi kesejahteraan rakyat di masing-masing negara,” tutur Jokowi yang disambut tepuk tangan meriah para pemimpin negara lainnya.

Peringatan puncak diakhiri dengan penandatanganan salah satu dari tiga dokumen KAA yakni Pesan Bandung 2015. Indonesia memilih Tiongkok sebagai perwakilan dari negara Asia. Sementara itu, Swazilan mewakili negara dari kawasan Afrika.

Ditandai:
Posted in: Dunia, News