Pakar Sudah Prediksi Gempa Nepal Sejak Sepekan Lalu

Posted on 26 April 2015

0


Pakar-Sudah-Prediksi-Gempa-Nepal-Sejak-Sepekan-Lalu

Sepekan lalu, sekitar 50 ahli gempa bumi dan ilmuwan sosial dari seluruh dunia berkumpul di Kathmandu, Nepal. Mereka memutar otak untuk mengantisipasi gempa bumi besar yang diprediksi akan menimpa Nepal. Gempa tersebut dianggap mirip dengan gempa yang menghancurkan Kathmandu pada 1934.

Meski sudah memprediksi gempa dahsyat tersebut, namun tim ahli belum mengetahui lokasi serta tanggal pastinya ketika itu.

“Semacam mimpi buruk yang menunggu untuk menjadi nyata. Yang terjadi secara fisik dan geologis adalah apa yang kami sudah prediksi,” ujar seorang ahli gempa yang sekaligus Kepala Ilmu Bumi Universitas Cambridge, James Jackson seperti dilansir dari situs The Times of India, Minggu (26/4/2015).

Namun, dirinya tak menyangka gempa terjadi secepat itu. Bahkan ia sempat berkeliling di area yang menjadi pusat gempa Nepal. Pada saat itu, ia berpikir akan terjadi sesuatu di lokasi tersebut.

“Saat itu saya melewati wilayah tepat dimana gempa terjadi dan saya berpikir pada saat itu juga wilayah tersebut akan menghadapi masalah,” ungkapnya.

Memang, gempa sebesar 7,8 SR yang terjadi di Kathmandu itu telah lama ditakuti, tak hanya karena gempa tektonik yang disebabkan patahan lempeng bumi, tetapi juga kondisi konstruksi wilayahnya.

Seorang Seismolog dari United States Geological Survey, David Wald, getaran gempa yang sama dapat mengakibatkan efek yang berbeda di setiap wilayah tergantung faktor konstruksi bangunan dan populasi di wilayah tersebut. Misal, dengan getaran yang sama terjadi di California mungkin hanya menimbulkan korban 10-30 jiwa, tetapi di Nepal hingga 1.000 jiwa dan mungkin 10.000 jiwa untuk wilayah Pakistan, India, Iran, dan Tiongkok.

Lanjut kata Jackson, pemicu bencana gempa adalah buatan manusia itu sendiri. “Yang membunuh manusia bukan gempanya, melainkan bangunannya,” tuturnya.

Untuk gempa di Nepal sendiri, kata Jackson, salah satu faktornya karena kebudayaan di wilayah tersebut dimana hukum waris lokal membagi rumah secara rata kepada anak cucunya sehingga membuat konstruksi rumah reyot karena membutuhkan banyak ruang.

“Konstruksi di Kathmandu mengerikan,” pungkasnya.

Selain itu, polusi dan kemiskinan juga menjadi faktor memperparah dampak gempa Nepal. “Jika Anda tinggal di Lembah Kathmandu, Anda akan memiliki prioritas lain. Kualitas udara, air, polusi, lalu lintas dan kemiskinan menjadi ancaman mendesak tiap harinya dibandingkan harus mengkhawatirkan gempa yang akan terjadi di masa datang,” jelas Jackson.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,8 Skala Richter yang mengguncang Nepal pada Sabtu kemarin telah menewaskan lebih dari 1.200 orang.

Menurut informasi Kementerian Luar Negeri RI, terdapat belasan Warga Negara Indonesia yang menetap di Nepal.

“#updateNepal KBRI Dhaka berhasil menghubungi beberapa WNI di Nepal, jaringan komunikasi yg blm stabil menyulitkan upaya kontak,” demikian ditulis Kemlu dalam akun Twitter, Minggu (26/4/2015).

Pemerintah di seluruh dunia menawarkan bantuan ke Nepal, yang dilanda bencana alam terburuk dalam 80 tahun terakhir.

Ditandai:
Posted in: Dunia, News