Makaroni Ngehe Beromset Rp40 Juta per Hari

Posted on 18 Maret 2015

0


Makaroni-Ngehe-Beromset-Rp40-Juta-per-Hari

Beberapa pengusaha berpendapat, ide adalah salah satu kunci sukses untuk menjalankan sebuah usaha.

Benar saja, kali ini, ide nyeleneh seorang mahasiswa asal Tasikmalaya, Ali Muharam (29), ternyata berhasil melejitkan usahanya yang baru saja berjalan dua tahun.

Dalam waktu yang cukup singkat itu, Ali berhasil membuka delapan cabang di kawasan Jakarta, dan meraup omzet kurang lebih Rp40 juta per hari, yang jika diuraikan di tiap cabangnya beromzet Rp3-5 juta per hari.

Makaroni Ngehe, sebuah kata yang cukup menimbulkan kontroversi, sekaligus penasaran bagi para pelanggannya. Namun, inilah diksi yang bisa melejitkan sebuah usaha makaroni pedas.

Seperti diketahui, kata Ngehe sering digunakan untuk mengungkapkan kekesalan, atau umpatan. Ali mengaku ide nyeleneh ini berawal dari kekesalan dengan pengalaman hidup yang pernah dia alami.

“Kehidupan saya ngehe banget dulu, saya kan dari Tasik, kota kecil, lalu pindah ke Jakarta. Di Jakarta, saya sempat kerja di warteg, motong-motong sayur, dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, cuma dibayar lima ribu. Saya juga pernah terlunta-lunta tidak punya tempat tinggal, menumpang di rumah temen, tidur di emper toko, lalu tidur di masjid juga pernah dan untuk makan saja pernah hanya bertahan dengan jambu biji ibu kosan, karena memang tidak punya uang waktu itu,” ujar Ali, Kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu, di Outlet Makaroni Ngehe Cabang Foxtrot, Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Menurutnya, kata ngehe itu sendiri adalah motivasi, atau pelecut untuk dirinya, agar tidak kembali ke masa suramnya tersebut.

“Saya berpikir, jangan sampai hidup saya berbalik ke fase ‘ngehe’ itu, dan akhirnya saya pakai nama ‘ngehe’ itu untuk usaha saya, agar saya selalu terpacu untuk hardwork dan smartwork. Jadi, ‘ngehe’ itu adalah sebuah motivasi bagi saya, meskipun agak nyeleneh,” ungkap dia.

Selain itu, lanjutnya, kata ngehe tersebut juga menunjukkan level kepedasan dari produk makaroninya. Meskipun pedas, namun produknya ini diyakini membuat ketagihan para pelanggannya.

Respons awal pembeli

Dia juga mengatakan, respons pembeli pada awal pertama buka usaha pun cukup unik.

“Respons pembeli itu pertama kali, mereka aneh melihat namanya, ini apa sih, namanya tengil banget gitu kan, ngehe gitu. Awalnya, mereka nggak beli, Cuma berhenti lalu foto, berhenti lalu foto. Begitu kan. Saya menjualnya dulu cukup murah, harganya mulai dari Rp1.000 – 5.000. Tak lama, dari situlah mahasiswa Binus mulai datang,” ujarnya.

Promosinya sendiri dari mulut ke mulut. Akhirnya, beredarlah nama Makaroni Ngehe. Tepat 11 Maret 2013, cabang pertama buka. “Gitu, jadi sampai sekarang berarti sudah berjalan dua tahun dan telah ada delapan cabang sekarang,“ terangnya.

Untuk bertahan dan bersaing, Ali mengakui, tidak ada trik-trik khusus yang dilakukannya melainkan lebih kepada perbaikan internal.

“Jika dari internalnya baik, sekuat apa pun persaingan, sebuah merek pasti akan bertahan. Jadi, kami benar-benar menjaganya, dengan baik, mendengar keluhan konsumen, kami respons dengan cepat dan baik. Misalnya ada yang minta, buka cabang di daerah tertentu, maka kami akan penuhi,” jelasnya.

Sensasi pedas yang ditawarkan makaroni ini terdiri dari beberapa level di antaranya adalah level sedikit pedas dengan jargon #ciwitbutina, level menengah, #kepretpakendang, dan level sangat pedas yaitu #pitnahbulilis.

Ide ini merupakan kenangan yang pernah dialami oleh pengusaha muda asal Tasik ini.

Outlet Makaroni Ngehe ini selalu ramai, terutama di saat jam pulang kerja. Bahkan, puluhan orang rela antre untuk mendapatkan camilan pedas yang harganya dijual mulai Rp5 ribu dan kebanyakan camilan ini digandrungi oleh anak muda.

Salah satu pembeli saat ditemui VIVA.co.id, Ocha (25 tahun) yang berprofesi sebagai guru, menyatakan bahwa munculnya ketertarikan untuk membeli camilan pedas ini, berawal dari penasaran melihat orang sedang ramai antre di gerai tersebut.

“Soalnya ramai melulu. Saya sering lewat sini, jadi pengen nyobain gimana rasanya, karena ramai terus ya saya jadi penasaran,” ungkap Ocha.

Sementara itu, pelanggan lain yang dihubungi VIVA.co.id, secara terpisah, Laras (19 tahun) mengaku sering mampir dan bahkan hampir setiap hari datang untuk menikmati camilan pedas ini.

“Karena pedas, udah gitu asin, terus murah lagi, cuma Rp5 ribu doang, kalau saya suka yang kering, kalau yang basah nyerap banget sambelnya gitu, kalau kering kan enak tuh,” ujar Laras.

Berawal dari modal pinjaman

Usaha yang dijalankan tentu tidak semulus yang dibayangkan, ada lika-liku dan rintangan yang harus dilalui. Dia mengaku, pernah mengalami masa sulit.

Bahkan, untuk memulai usaha yang sudah cukup mapan ini, Ali ternyata memulai dari pinjaman modal yang diperoleh dari seorang temannya.

“Modal awal saya pinjam ke teman, jadi modal itu minus Rp20 juta, karena saya benar-benar nggak ada uang waktu itu, tetapi saya ingin menantang zona aman saya,” ujarnya.

Dalam menjalani usahanya, dia mngaku menemukan beberapa kendala.

“Kendala mungkin nyari tempat ya, agak sulit. Tetapi, setelah beberapa hari saya nyari dikasih jalan, dapat tempat dan sewanya itu murah Rp1 juta per bulan. Jadi, saya itu modal awalnya meminjam ke teman sekitar Rp15-20 jutaan. Dengan modal minim, saya dapat juga tempat yang bayarnya nggak cukup besar juga,” ujarnya.

Ali menuturkan, berani membuka usaha karena terinspirasi oleh sang pengusaha eksentrik almarhum Bob Sadino.

“Sebenarnya saya ingat kata-kata almarhum Bob Sadino. Beliau itu keren banget. Dia bilang, bisnis yang berjalan itu bukan bisnis yang selalu dipertanyakan tapi bisnis yang dilakukan, saya terinspirasi dengan beliau,” ungkapnya.

Ali menuturkan, sebelumnya adalah orang tidak betah bertahan lama di tempat dia bekerja.

“Tapi ada pengecualian, waktu itu, saya pernah bekerja di bidang yang saya sukai yaitu nulis skenario sinetron. Namun, sebelumnya ketika kerja di restoran, dan serabutan ini itu, paling lama cuma bertahan enam bulan, sebulan, atau dua bulan keluar, emang sepertinya, saya nggak bisa jadi karyawan, mungkin terlalu banyak ide,” tutur mahasiswa Binus ini.

Saat ini, Makaroni Ngehe telah mempekerjakan sekitar 90 orang karyawan di delapan cabang, yang mana pada setiap cabang atau outlet berjumlah tujuh hingga 14 orang kru Ngehe (sapaan karyawan Makaroni Ngehe).

Untuk sistem gaji, Ali mengatur sedemikian rupa, agar semua karyawan dari tiap outlet bisa lebih nyaman untuk bekerja.

“Jadi, buat Makaroni Ngehe, kami selalu memastikan karyawan setidaknya nyamanlah kerja, tidak harus bekerja di bawah tekanan,” ujarnya.

“Sistem gaji karyawan, saya membiasakan lewat amplop. Jadi, tiap bulan kami ketemu, ngumpul di kantor, bagi gaji, karena saya mikirnya mereka akan lebih senang ketika ketemu, mereka mengobrol-ngobrol, bisa bercanda sama yang lainnya. Jadi, dari satu outlet ke outlet lain itu, mereka akrab, sudah kayak ketemu saudara lama,” ujarnya.

Karyawannya sendiri, kebanyakan adalah teman-temannya sendiri, dan sistem perekrutannya adalah sistem dari teman ke teman, tidak ada perekrutan dengan cara khusus.

“Karyawan itu untuk manajerial ada dua orang, satu orang teman SMA saya namanya Reni. Terus Reni punya teman, namanya Iwan. Reni jadi HRD, terus Iwan jadi manajer pengadaan barang. Terus ada teman saya lagi namanya Galih, dia project manajer. Nah, kalau karyawan-karyawan sendiri secara natural saja, temannya bawa teman, begitu seterusnya, akhirnya dateng dari teman ke teman,” jelasnya.

Keberhasilan sebuah usaha tentu tak lepas dari dukungan orang spesial yang berperan, begitu pula halnya dengan Ali.

Terinspirasi masakan ibu

Dia mengakui, ide dari usahanya saat ini merupakan metamorfosa makaroni yang sering dibuat oleh ibunya saat Lebaran.

“Sempat kepikiran mau usaha yang lain, kayak dagang gorengan, atau nggak pecel ayam, atau pecel lele gitu. Tetapi, saya lebih terinspirasi dari ibu saya. Jadi, makaroni ini dulunya ibu saya selalu goreng setiap Lebaran, dan tetangga itu nggak ada yang bikin. Terus ada tamu yang nyoba dan suka, lalu dua hingga tiga tahun, saudara juga mulai pada bikin. Tahun 2000-an, mulai ada yang jualan makaroni. Terus ibu saya bilang, coba kita ada insting bisnis, mungkin kita bisa bikin dagangan ini, sepertinya bisa lebih laris karena kita pelopor. Jadi, kalau saya sih pengen bikin bangga ibu,” ungkapnya.

Ali saat ini masih terus berupaya mengembangkan bisnis makaroni ini, pada tahun ketiga ini dia menargetkan akan membuka 10 cabang lagi. “Rencana tahun ini tambah 10 cabang, mudah-mudahan bisa terwujud,” paparnya.

“Jujur secara personal saya puas, tetapi saya ingin bertahan, semakin baik, cabangnya semakin banyak dan saya ingin mengatur strategi lebih ke pemberdayaan karyawan saya. Saya usahakan mereka itu, nggak ada beban dalam bekerja. Saya usahakan hatinya senang, jadi dalam melayani pun mereka senang, mungkin saya membiasakan budaya keterbukaanlah dalam usaha, welcome, open minded,” tuturnya.

Ditandai:
Posted in: Unik